"Selamat Datang Di Blog Pro Ecclesia Et Patria"

Minggu, 15 April 2012

Bung Karno Membandingkan Strategi Stalin Dan Trotsky

Srotsky dan Stali

Diantara sekian banyak bapak pendiri Republik, Soekarno adalah salah satu penjelajah pemikiran yang paling luas. Ia belajar tentang kebudayaan Jawa dan mistik, hinduisme dan budhisme, nasionalisme, sosialisme, hingga komunisme. Pemikir-pemikir marxis, mulai dari yang moderat hingga paling radikal, pun semua dilahapnya dengan baik. Sebut saja Hendri de Man (Belgia) Pieter Troelstra (Belanda), Jean Jaures (Perancis), Karl Kautsky, Rosa Luxemburg, Clara Zetkin, dan Karl Liebknecht (Jerman) hingga Lenin, Stalin, dan Trotsky (Rusia).
Dalam pidato 1 Juni 1945 tentang lahirnya Pancasila, yang disampaikan di hadapan militer-fasis Jepang, Bung Karno menceritakan bagaimana Lenin, pemimpin revolusi sosialis yang besar itu, membangun Uni-Soviet. Bayangkan, saat berbicara tentang dasar dari negara yang akan dibentuk, Bung Karno bercerita soal Lenin dan Uni Soviet. Ternyata, selain mengulas pemikiran-pemikiran itu, Bung Karno juga kadang-kadang membenturkannya. Salah satunya adalah membenturkan pemikiran Leon Trotsky tentang revolusi permanen dan teori sosialisme satu negara-nya Stalin.
Tidak tanggung-tanggung pula, Bung Karno mengulas perbedaan kedua tokoh Soviet ini di depan peserta kursus Pancasila di Istana negara, tahun 1958. Saat itu, Bung Karno sedang menjelaskan soal bagaimana keadilan sosial bukan hanya dipraktekkan dalam lingkungan Indonesia saja, tetapi juga untuk seluruh umat manusia. “Perjuangan yang hebat atau katakanlah gedachtestrijd yang hebat di Uni-Soviet beberapa puluh tahun yang lalu, yaitu gedachtestrijd yang hebat sekali antara golongan yang dikepalai oleh Leon Trotsky dan golongan yang dikepalai oleh Stalin,” kata Bung Karno memulai penjelasannya.
Menurut Bung Karno, baik Trotsky maupun Stalin menghendaki masyarakat adil dan makmur ala Rusia. “Dua-duanya menghendaki komunisme, dua-duanya menghendaki hilangnya stelsel kapitalisme, dua-duanya menghendaki manusia tidak dihisap oleh manusia lain….dua-duanya menghendaki masyarakat sama-rata sama-rasa tanpa kapitalisme.”
Pemikiran Trotsky, kata Bung Karno, dilandaskan kepada kesimpulan bahwa kapitalisme tidak hanya bersarang di Rusia saja, tapi bercokol di seluruh dunia. “Kita tidak dapat mendirikan satu masyarakat sosialis atau komunis di Rusia saja, jikalau kita tidak pula menumbangkan kapitalisme di lain-lain negeri,” katanya berusaha menjelaskan gagasan Leon Trotsky. Oleh karena itu, menurut Soekarno, Leon Trotsky menuntut agar supaya revolusi yang diadakan di Uni-Soviet diteruskan ke negeri-negeri lain, dijadikan satu revolusi Internasional. “Kita punya revolusi haruslah suatu revolusi permanen, revolusi yang terus-menerus dan memusatkan perhatian kepada revolusi terus-menerus itu…..terus gempur, gempur di segala lapangan, di segala hari, di segala negeri, revolusi sosialis adalah satu revolusi permanen, kalau sosialisme hendak dicapai,” kata Bung Karno menirukan perkataan Trotsky (versi Bung Karno, tentunya).
Sedangkan Stalin, pemimpin Soviet yang berkuasa saat itu, mengambil jalan berfikir yang lain: sosialisme di dalam suatu negara dulu. Fikiran Stalin, kata Bung Karno, bertumpu pada kesimpulan bahwa pembangunan sosialisme membutuhkan pembangunan benteng proletariat lebih dahulu. Oleh karena itu, dalam logika Stalin, perlu untuk memperkuat Uni-Soviet sebagai benteng kaum proletariat, dan tidak usah terlalu memikirkan penciptaan revolusi di negara lain. “Pusatkan engkau punya perhatian lebih dahulu kepada pemerkuatan benteng yang telah ada di tangan kita,” kata Bung Karno menirukan pernyataan Stalin.
Dua faham ini terlibat bentrokan, sampai-sampai terjadi apa yang disebut Bung Karno sebagai “ de strijd om de macht”. Bung Karno menceritakan bagaimana Trotsky yang kalah harus dibuang oleh Stalin ke Alma Ata, lalu diasingkan ke luar negeri. Ketika masih di Meksiko, kata Bung Karno, Leon Trotsky masih terus mengajarkan teori revolusi permanennya dan tidak henti-hentinya mengeritik Stalin. “Suatu hari, orang pengikut Stalin atau alat Stalin menghabisi ia punya jiwa dengan membacok ia punya kepala dari belakang,” kata Bung Karno menceritakan terbunuhnya Leon Trotsky oleh agen Stalin.
Setelah kekalahan Trotsky di Uni-Soviet, Bung Karno menyimpulkan, negeri hasil revolusi oktober itu memasuki periode stalinisme atau periode memperkuat benteng di dalam lingkungan pagar besi. “Periode memperkuat benteng ini melalui fase-fase pembersihan, penangkapan, pembredelan, dan pembunuhan,” kata Soekarno menyimpulkan era Stalinisme. Bagi Bung Karno, Stalin melakukan kesalahan karena telah melakukan isolasionisme, dan mengabaikan hubungan dengan bangsa-bangsa lain. Terkait perdebatan itu, Soekarno menyimpulkan sendiri, bahwa masyarakat adil makmur yang diperjuangkan bangsa Indonesia tidaklah sebatas dalam lingkungan Indonesia, tetapi seluruh umat manusia

Sumber :
http://www.berdikarionline.com/sisi-lain/20110511/ketika-bung-karno-membandingkan-strategi-stalin-dan-trotsky.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar